Friday, October 11, 2019

RENDAHNYA MINAT BUDAYA BACA


Kebiasaan masyarakat Indonesia dalam membaca dan menulis masih terbilang sangat rendah. Tak usah jauh menelisik pada masyarakat Eropa seperti Inggris, Prancis, Jerman, atau bahkan di Amerika, di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) saja, kebiasaan membaca dan menulis juga terbilang rendah. Indonesia menempati urutan ketiga terbawah di kawasan ASEAN, atau berada di atas Kamboja dan Laos.
Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan. Berdasarkan indeks nasional, tingkat minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,01. Sedangkan rata-data indeks tingkat membaca di negara-negara maju berkisar antara 0,45 hingga 0,62.
Merujuk pada hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih ‘mau’ membaca buku secara serius (tinggi). Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Lebih Gemar SMS
Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia ini makin menyebabkan kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia juga hanya jalan di tempat (stagnan) dan cenderung mundur. Berdasarkan beberapa penelitian, penyebab rendahnya budaya baca ini karena masyarakat Indonesia lebih suka menonton televisi (TV), mendengarkan radio, dan bergelut pada dunia maya (internet dan media sosial) dibandingkan membaca buku. Istilahnya, masyarakat Indonesia lebih suka mengirim SMS atau BBM-an, Facebook-an atau Twitter-an dibandingkan membaca buku
Bila kondisi ini terus berlangsung dan tak diantisipasi sejak dini, maka kita tidak bisa berharap banyak pada mutu dan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Lalu apa yang bisa dilakukan pemerintah?
Sudah semestinya pemerintah mendorong dan lebih maksimal lagi dalam menumbuhkan dan meningkatkan budaya membaca masyarakat Indonesia. Mulai dari memperbanyak kegiatan membaca, baik di sekolah maupun di rumah, hingga pengadaan sarana dan prasarana seperti penyediaan buku-buku bacaan dan pelajaran, baik di perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah, maupun memperbanyak taman-taman bacaan masyarakat.
Keseriusan pemerintah dalam mendorong minat baca masyarakat mutlak dibutuhkan. Sebab, kondisi yang sudah ‘mengakar’ dan membudaya akan rendahnya minat baca ini harus dilakukan perbaikan. Pemerintah harus proaktif mengajak masyarakat untuk gemar membaca.
Salah satunya, mendorong peningkatan jumlah produksi buku. Saat ini, angka produksi buku di Indonesia juga terbilang cukup rendah. Setiap tahun, hanya sekitar 7.000-8.000 judul buku yang diterbitkan, Jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia yang memproduksi hingga 10 ribu judul buku setiap tahunnya.
Angka itu akan semakin tampak memprihatinkan bila dibandingkan dengan  Jepang yang menerbitkan 44 ribu judul buku per tahun, Inggris 61 ribu judul, dan Amerika Serikat 100 ribu judul buku per tahun.
Artinya, jumlah ketersediaan buku bacaan yang ada, belum mampu memenuhi kebutuhan dasar secara umum masyarakat Indonesia untuk gemar membaca. Jika diakumulasikan, satu buku dibaca oleh tujuh orang warga negara Indonesia.
Budayawan Taufiq Ismail mengeluhkan kondisi masyarakat Indonesia dalam hal membaca. Taufiq menyebutkan, di negara maju siswa SMA diwajibkan menamatkan buku bacaan dengan jumlah tertentu sebelum mereka lulus.
Dicontohkan, di Jerman, Prancis, dan Belanda, para siswa sekolah menengah atas (SMA) diwajibkan untuk menamatkan 22-23 judul buku sebelum mereka lulus sekolah. Sedangkan di Indonesia, kata Taufiq Ismail, sejak tahun 1950 hingga 1997 tak ada kewajiban dari sekolah atau pemerintah kepada para siswanya untuk menamatkan buku bacaan, alias nol buku per tahun.
Kondisi ini jelas bertolak belakang dengan harapan para ‘founding father’ (pendiri) bangsa yang menginginkan masyarakat Indonesia yang cerdas sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yakni ‘mencerdaskan kehidupan bangsa.
Bagaimana kita bisa mencerdaskan masyarakat Indonesia bila budaya baca saja sangat rendah? Bagaimana masyarakat bisa mau membaca bila di perpustakaan tak ada buku. Bagaimana buku bisa tersedia di perpustakaan bila produksi buku  masih rendah?
Pertanyaan kemudian, apa sih yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam upaya menumbuhkan minat baca masyarakat ini? Kita pantas mengelus dada menyaksikan fenomena seperti ini.
Alih-alih untuk mencerdaskan anak bangsa, merealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen saja masih tarik ulur. Selain itu, masih banyak anak-anak Indonesia yang tak bisa bersekolah karena ketiadaan biaya. Bahkan, sebagian siswa di belahan pelosok negeri ini pun harus berjuang dengan maut karena harus bergelantungan pada kawat dari jembatan yang putus. Sementara, para pejabat pemerintah dan terlibat dalam praktek korupsi. Sungguh sebuah ironi yang sangat mengenaskan.
Karena itu, penulis berharap pemerintah bisa mengatasi semua ini, dan lebih peduli dalam menumbuhkan minat baca masyarakat demi mencerdaskan anak bangsa.
Kita bersyukur karena penerbit buku yang tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) terus menerus menerbitkan berbagai buku untuk membantu program pemerintah mencerdaskan masyarakat ini. Penerbit juga tak henti-hentinya menyosialisasikan buku-buku yang diterbitkan.
Sayangnya, upaya itu masih bertepuk sebelah tangan. Di saat produksi dan penjualan buku mengalami penurunan, pemerintah tak jua bergerak cepat untuk membantu. Begitu pula dengan sosialisasi ketersediaan buku yang dilakukan penerbit, pemerintah bahkan terkesan tak mau ambil peduli.
Pameran buku di Indonesia, seperti Islamic Book Fair (IBF), Indonesia International Book Fair (IIBF), Jakarta Book Fair (Jakbook), atau lainnya, merupakan sarana bertemunya berbagai stakeholders dunia perbukuan. Sayangnya, itu semua tak berbanding lurus dengan harapan.
Padahal, pameran seperti itu, kerap mendatangkan peserta dari luar negeri. Tahun 2014 lalu, IIBF diikuti sejumlah penerbit dari Malaysia, Korea, Pakistan, Brunei, Singapura, dan Arab Saudi. Bahkan, pada Oktober 2015 mendatang, Indonesia juga akan menjadi tamu kehormatan pada acara Frankfurt Book Fair 2015.
Artikel ini diharapkan bisa mendorong pemerintah semakin peduli dan serius dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan budaya membaca masyarakat Indonesia. Sebab, banyak manfaat yang diperoleh dari membaca. Di antaranya; (1) meningkatkan pengembangan diri, (2) meningkatkan intelegensi (intelekual), (3) meningkatkan minat dan pemahaman pada suatu bidang ilmu, (4) wawasan semakin luas, dan (5) menjadikan pembaca mempunyai tutur kata yang sopan.
Banyak upaya yang bisa dilakukan, di antaranya; memotivasi setiap anggota keluarga untuk gemar membaca, mendorong para guru di sekolah untuk menekankan pentingnya membaca buku setiap bulan, minimal satu buku per bulan.
Selanjutnya, meningkatkan ketersediaan buku di perpustakaan dan memperbanyak taman bacaan masyarakat, meningkatkan promosi dan sosialiasi gerakan gemar membaca, memberikan apresiasi pada kelompok atau personal yang gemar membaca, dan menyediakan buku-buku bacaan yang murah dan berkualitas melalui pameran buku.
Dengan upaya ini semua, diharapkan budaya masyarakat untuk membaca semakin tinggi, sehingga harapan pemerintah untuk mencerdaskan anak bangsa bisa terwujud. Semoga.

Monday, May 13, 2019

Bioteknologi-Makalah Praktikum Pembuatan Keju


LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI
“Fermentasi Keju”
DISUSUN OLEH :


KELOMPOK V
NAMA ANGGOTA :
Ø ANGGIE MINARN Br. BUTAR-BUTAR
Ø ERMA SINTYA LUBIS
Ø YOHANA SABRINA SIHOMBING
KELAS : XII IPA

SMA NOMMENSEN KOTA JAMBI
Tahun Ajaran 2018/2019



Kata Pengantar

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan sehingga terselesainya makalah yang mengenai proses pembuatan keju. Melalui makalah ini kami ingin menjelaskan secara sederhana tentang proses pembuatan keju. Makalah ini membantu untuk lebih jauh mengetahui tentang bagaimana proses pembuatan keju dan manfaat yang ada di balik keju sebagai proses fermentasi makanan.Serta makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas akhir sebagai syarat untuk pelaksanaan UASBN yang akan datang. “ Tak ada gading yang tak retak ” itulah kata pepatah, demikian pula dengan makalah ini tentu masih mempunyai banyak kekurangan dan kesalahan, karena itu kepada para pembaca khususnya guru mata pelajaran ini dimohon kritik dan saran yang bersifat membangun demi bertambahnya wawasan kami di bidang ini.

Jambi,08 Maret 2019


Penulis 


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Bioteknologi adalah pemanfaatan mikroorganisme untuk menghasilkan suatu produk yang dapat digunakan oleh manusia.Bioteknologi dibagi menjadi dua, yaitu, bioteknologi konvensional (tradisional) dan bioteknologi modern.Bioteknologi konvensional biasanya menggunakan mikroorganisme berupa bakteri, jamur, dll. Sedangkan bioteknologi modern biasanya menggunakan teknologi-teknologi yang dapat membantu kita dalam proses pengkloningan, kultur jaringan.

Pengolahan makanan dengan cara fermentasi merupakan jenis pengolahan makanan yang cukup tua. Secara tradisional banyak dilakukan di tingkat rumah tangga. Indonesia sangat kaya akan produk-produk pangan hasil proses fermentasi. Salah satu contohnya keju.
Keju adalah sebuah makanan yang dihasilkan dengan memisahkan zat-zat padat dalam susu melalui proses pengentalan atau koagulasi. Proses pengentalan ini dilakukan dengan bantuan bakteri atau enzim tertentu yang disebut rennet. Keju adalah salah satu produk susu yang paling penting dan banyak dikonsumsi. Makanan dengan bahan dasar susu ini diperkirakan ada lebih dari 3000 jenis di seluruh dunia, yang berasal dari Perancis, Jerman, Belanda, Denmark, Swiss, Italia, Inggris, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa lain.
Dalam pembuatan keju digunakan bakteri asam laktat, yaitu Lactobacillus dan Streptococcus. Bakteri tersebut berfungsi memfermentasikan laktosa dalam susu menjadi asam laktat yang terdapat dalam cuka makan.



1.2  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
1.2.1          Bagaimana proses pembuatan keju?

1.3  TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka yang menjadi tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.3.1                  Untuk mengetahui proses pembuatan keju.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.
Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil fermentasi adalah etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol lainnya. Respirasi anaerobik dalam otot mamalia selama kerja yang keras (yang tidak memiliki akseptor elektron eksternal), dapat dikategorikan sebagai bentuk fermentasi.
    Keju adalah sebuah makanan yang dihasilkan dengan memisahkan zat-zat padat dalam susu melalui proses pengentalan atau koagulasi. Proses pengentalan ini dilakukan dengan bantuan bakteri atau enzim tertentu yang disebut rennet. Produk-produk keju bervariasi ditentukan dari tipe susu, metode pengentalan, temperatur, metode pemotongan, pengeringan, pemanasan, juga proses pematangan keju dan pengawetan. Umumnya, hewan yang dijadikan sumber air susu adalah sapi, unta, kambing, domba, kuda, atau kerbau digunakan pada beberapa tipe keju lokal. Keju memiliki hampir semua kandungan nutrisi pada susu, seperti protein, vitamin, mineral, kalsium, dan fosfor namun juga lemak dan kolesterol yang dapat menyebabkan masalah kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan. Keju sangat bermanfaat karena kaya akan protein, terutama bagi anak kecil karena mereka membutuhkan protein yang lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Di dunia ini ada berbagai jenis keju, diantaranya ada beberapa yang terkenal yaitu keju Cheddar, keju Edam, keju Mozzarella, dan keju Parmesan. Keju Cheddar adalah yang paling sering kita temui di Indonesia.
Kandungan dalam keju adalah:
1.Lemak
Lemak memberikan rasa dan tekstur yang unik pada keju. Kandungan  lemak pada keju berbeda-beda pada satu jenis keju dengan yang lainnya.
2.Protein
Keju memiliki kandungan protein sebesar 10-30%. Protein ini didapatkan dari kasein yang dimodifikasi.
3.Mineral
Keju sangat kaya akan kalsium,fosfor dan seng.
4.Vitamin
Saat susu murni digunakan untuk membuat keju, vitamin A dan D yang larut dalam lemak tinggal pada dadih. Namun, banyak vitamin yang larut dalam air yang hilang terbawa air dadih. Hanya sekitar seperempat dari riboflavin (vitamin B2) dan seperenam tiamina (vitamin B1) yang tinggal pada keju cheddar, sedangkan niasin, vitamin B6, vitamin B12,biotion, asam pantothenic, dan folat terbawa bersama air dadih.
5.Laktosa
Kandungan laktosa pada keju sangatlah kecil, yaitu berkisar 4.5-4.7%. Hal ini dikarenakan dalam prosesnya sebagian besar laktosa dalam susu keluar bersama air dadih dan yang tersisa diubah menjadi asam laktat saat proses pematangan. Karena itu, keju merupakan makanan yang aman dikonsumsi oleh orang yang memiliki intoleransi laktosa dan penderita diabetes.



BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 WAKTU DAN TEMPAT PRAKTIKUM
            Waktu             : Sabtu, 02 Maret 2019
            Tempat            : Rumah Hanna Maria

3.2 VARIABEL
            variable bebas     : Cuka makan
            variable control  : Suhu dan waktu proses fermentasi
            Variabel terikat  : Susu

3.3  ALAT DAN BAHAN
        Alat :
  -     Panci
-          Sendok
-          Saringan
-          Kain bersih
-          Cetakan
Bahan: -     1 Liter Susu         
-          5 sendok Cuka makan
-          ½  sendok teh garam
                       
3.4  LANGKAH KERJA
1. Siapkan alat dan bahan.
2. Masukkan susu full cream kedalam panci,lalu panaskan.
3. Masukkan 5 sdm cuka
4. Aduk terus hingga mengental
5. Setelah mengental matikan kompor dan biarkan beberapa menit hingga terlihat endapan.
6. saring susu tersebut.
7. Taburi ½ sendok teh garam secara merata.
8. Cetak menggunakan wadah yang bersih.
9. Masukkan kedalam kulkas selama beberapa jam.
10. Keju siap digunakan.


BAB IV
PEMBAHASAN

Hasil Praktikum

 



 Pembuatan keju dilakukan melalui fermentasi Bakteri
Substrat           :     Susu
Mikroorganisme: bakteri asam laktat, yaitu Streptococcus dan Lactobacillus.
Pengolahan keju adalah proses dilakukan untuk mengolah susu hingga menjadi berbagai jenis keju. Ada empat tahapan utama dalam pembuatan keju sederhana.
Tahap – tahap pembuatan keju :

1.      Pengasaman
Dalam pembuatan keju, setelah air susu diperoleh, susu kemudian di pasteurisasi. Susu di panaskan agar bakteri asam laktat, yaitu streptococcus dan lactobacillus dapat tumbuh. Bakteri bakteri ini memakan laktosa pada susu dan merubahnya menjadi asam laktat. Saat tingkat keasaman meningkat, zat- zat padat dalam susu (protein, kasein, mineral, lemak, dan beberapa vitamin) menggumpal dan membentuk dadih.

2.      Pengentalan
Bakteri rennet ditambahkan ke dalam susu yang dipanaskan yang kemudian membuat protein menggumpal dan membagi susu menjadi bagian cair (air dadih) dan bagian padat (dadih). Rennet mengubah gula dalam susu menjadi asam dan protein yang ada menjadi dadih. Jumlah bakteri yang dimasukkan dan suhunya sangatlah penting bagi tingkat kepadatan keju. Dengan bantuan saringan, air dan air dadih akan terpisah

3.      Pencetakan
Saat dadih dipisahkan dengan air dadihnya, maka dadih dicampurkan dengan garam agar menambah cita rasa keju. Disini juga garam berfungsi untuk menghilangkan kadar air berlebih mengeraskan permukaan, melindungi keju agar tidak kering, serta mengawetkan dan memurnikan keju.

4.      Pematangan
Pematangan adalah proses yang merubah dadih segar menjadi keju yang penuh cita rasa. Pematangan disebabkan oleh bakteri atau jamur tertentu yang digunakan pada proses produksi. Waktu pematangan bervariasi mulai dari beberapa hari hingga beberapa minggu.



BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN
1.      Dalam pembuatan keju, ada 4 proses penting dalam pembuatan Keju yaitu proses pengasaman, pengentalan, pencetakan, dan pematangan.
2.      Dalam pembuatan keju dibutuhkan bakteri Streptococcus dan Lactobacillus yang terdapat didalam cuka makan untuk mengubah laktosa menjadi asam laktat,maka dari itu akan terasa sedikit asam pada keju yang siap dimakan.
3.      Suhu sangat berpengaruh dalam pembuatan Keju dan juga berpengaruh pada daya tahan keju.

SARAN
Saran yang dapat kami sampaikan untuk praktikum-praktikum selanjutnya yaitu diharapkan kepada praktikan selanjutnya agar lebih memperhatikan bagaimana pembuatan keju tersebut supaya pembuatan keju berlangsung sempurna.


DAFTAR PUSTAKA